Skip to main content

Posts

Bangga itu Harus Disyukuri, Bangga itu Indonesia

Apa yang lebih menyenangkan ketika kita bisa tinggal di negara yang maju dan juga memiliki kekayaan alam yang melimpah? Apa bisa dikatakan bersyukur ketika disaat yang bersamaan pula kita tidak menjaga negara yang dibanggakan dengan baik? Jauh dari baik atau tidaknya negara yang kita huni dan juga kebangsaan yang kita miliki, pasti ada hal yang dirasa penting dan berharga tertanam disana. Andai boleh memilih apa yang membuatmu bangga dan bersyukur menjadi bagian Indonesia? Jawaban saya hanya satu, karena saya terlahir di bumi pertiwi ini. Alasan yang objektif memang. Tapi yang membuat hal itu terasa spesial buat saya adalah banyak hal yang berharga dan bernilai untuk saya. Berbagi pendapat dengan sahabat mengenai Indonesia saat ini dengan tempo dulu saat saya masih duduk di bangku sekolah merupakan hal yang paling saya senangi. Ketika disela diskusi santai kami, saya dengan sengaja menanyakan tentang kebanggaan mereka sebagai seorang warga negara Indonesia. Berk...

"J" odiga?

*Ketika menulis ini satu hal yang selalu dirasa. Hati itu belum berubah sama sekali semenjak yang pertama datang dan menghilang pada akhirnya.* Beberapa hari belakang, aku tak lagi rajin mampir ke sebuah tempat ketika aku pertama kali dapat memikirkan dan bercengkrama dengan bayangannya. Bukan kembali bergumul pula dengan kopi dan buku yang seperti biasa aku lakukan. Alasan utama dari berkurangnya semua aktifitas itu adalah aku yang sedang ingin beristirahat dari hal itu. Tapi kesibukan kosong yang aku jalani belakang itu, membuatku rindu dengan sosoknya. Terlebih lagi waktu beberapa bulan tanpa kabar membuatku merasa sepi. Bukan hal berlebihan jika aku merasakan kesepian karena sosoknya yang tanpa kabar. Aku tidak membicarakan mengenai dia sosok 10 tahun yang selalu ada pada tempatnya. Tidak. Namun aku membicarakan sosok dia yang lain yang hampir 2 tahun ini ikut menemani dia yang 10 tahun telah berlalu. Bagaimana aku bisa menemukannya sosok dia yang 2 tahun bersinergi dengan ...

Begadang Asyik ala Bokap

"Siapa yang paling kau sayang antara ayah dan ibu? Siapa yang paling kau takuti dan paling kau segani diantara keduanya? Ayahmu atau ibu?" Entah bagaimana saat bertemu muka dengannya lagi, langsung kulontarkan pertanyaan itu. Apa dia langsung menjawab? Tidak. Air mukanya terlihat seperti habis berpikir keras. "Tak perlu kau jawab jika belum menemukan jawabannya. Aku hanya ingin menanyakan kepadamu saja. Bukan meminta jawaban." aku berusaha menenangkannya. "Bukan begitu. Aku juga sama sepertimu sedang menanyakan hal yang sama kepada diriku sendiri. Bagaimana kabar ayahmu? Masih gaul seperti sebelumnya?" tiba-tiba dia menanyakan kabar ayahku. "Beliau baik. Harusnya kau memanggilnya bokap. Karena dia enggan dipanggil ayah jika kita sedang membicarakannya." "Iya, aku suka lupa dengan hal ini." Jujur sebenarnya tak ada rencana untukku bertemu dengannya hari ini. Kalo bukan karena secangkir moccacino traktirannya aku enggan untuk ...

Masih dengan Pertanyaan yang Sama di Halaman Berikutnya

"Sudah selesai kau membaca itu?" dia bertanya sambil mununjuk ke buku yang sedang kubaca. "Hmm, baru pertengahan buku. Hanya beberapa bab lagi aku selesai membaca. Ada apa?" Perlahan kuturunkan buku yang sedang kubaca itu dan pandanganku langsung tertuju padanya. Memandang bertanya. "Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan?" masih dengan pandangan yang sama. "Bukan hal penting menurutku. Tapi rasanya aku butuh kau untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini." "Mengenai hal apa? Coba ceritakan mungkin aku dapat membantu mencari jawabannya." "Apa kau bisa menjawab tentang ini? Mengenai perasaan manusia yang sudah sepertinya kau rasakan. Aku ingin membicarakan mengenai cinta." "Cinta? Apa kau sedang jatuh cinta? Dengan siapa?" "Bukan aku, tapi kau. Dengan cinta pertamamu yang masih kau simpan hingga saat ini." "Aku? Dengan cinta pertamaku?" Heran. Tentu saja aku heran. Bagaimana bisa...

Secangkir Kopi Lagi

"Duduk dululah sejenak! Regangkan sedikit uratmu yang telah kaku." Celotehnya membuatku teringat akan ibuku di rumah. Apa yang beliau lakukan sekarang? Otak ini melompat cepat dalam deretan foto ingatan tentang beliau. Dari aku lahir hingga dewasa. Sedikit banyak perasaan rindu mengembang. "Baiklah. Jangan ceweret seperti itu!" ucapku padanya. "Apa yang ingin kau bagikan lagi denganku hari ini? Masihkah sama cerita tentang cinta pertamamu? Atau tentang pengalaman barumu?" "Bukan tentang hal itu yang ingin aku bagikan denganmu. Tapi hal lain mengenai teman-temanku semasa sekolah." "Baiklah, aku akan dengarkan." Akupun memulai ceritaku. Tapi apa yang hendak aku ceritakan padanya? Semua mengenai teman-temanku? Atau bernarasi dengan menggambarkan seperti apa mereka sekarang? Hendaknya aku memulai semuanya dari awal. Karena nampak jelas dia sedang tidak sabar menunggu ceritaku. Malam itu, sebuah perasaan membatu sepertinya di h...

Menjadi Penulis atau Sekedar Menulis

Agaknya bahasan ini terlalu berat buat gue. Hahaha... Yup, just doing what i want to share here ☺ Ini dia kesibukan kesekian yang gue lakuin di luar kerjaan dan kuliah. Baca buku. Gak usah norak gitu juga, ka -_- Gara-gara satu buku yang gue baca tentang penulis, jiwa kepo dan juga sok tau gue muncul. Cukup terinspirasi juga karena buku itu. Menjadi penulis atau sekedar menulis. Hayo..!!!! Kalo disuruh milih, pilihan apa yang akan gue pilih ya? Secara nulis itu udah gue lakuin dari SMP. Jadi penulis juga udah gue cita-citain waktu lulus SMA. Pilih yg mana ya?? Gak ada yang salah sama kedua pilihan itu. Pertama, gue udah dari dulu seneng nulis sama buku. Udah bukan hal baru lagi yang namanya penulisan. Gue pernah nulis satu cerita di buku tulis penuh dan itu tulis tangan. Semenjak punya nobi aja jadi agak males buat nulis tangan lagi. Tapi sejauh ini gue udah punya beberapa cerita dan ada juga yang di publish di blog lain. (ps. belum tamat) Menjadi penulis disaat hati benar yakin ...

Nah.. Ini Kekepoan Gue ^^

sebenernya ini tulisan lama yang ingin dipost di sini, berhubung kemarin-kemarin sibuk banget sama kerjaan yang gak ada abisnya. jadi, ditunda dan baru sekarang gue lanjutin lagi nulisnya. bukan hal penting sih yang mau gue bagi. cuma sekedar gumpalan kata-kata yang minta banget dituangin. beberapa hari yang lalu, gue asyik baca-baca blog tentang dunia penerbitan. ada satu sampai dua hal yang tertarik gue jadiin next job. penerjemah dan editor. yup, gue yang cuma punya sedikit ilmu tentang penerjemahan karena berhubung kuliah juga dijurusan yang sama. penerjemah bukan hal yang mudah buat gue. ya, kalo kita ngga ngerti kan bisa tinggal buka kamus, kayak terjemahan bahasa di sekolah dulu aja. tapi bukan cuma sekedar terjemahin terus dapetin nilai. tapi kalo sebagai profesi, hal itu harus dapetin juga feel atau perasaan dari buku atau cerita yang lagi diterjemahkan. jadi, orang lain yang baca juga ngerti apa yang si pembuat cerita itu mau. buat jadi penerjemah juga kudu bisa bahasa as...