Skip to main content

Posts

Radio vs TV

"Apa yang sedang kau dengarkan?" Terkaget? Iya, tentu saja. Karena dia menyapaku ketika sedang asyik mendengarkan sebuah lagu. "Ah, kau selalu saja. Hmm, ini lagu baru dari penyanyi yang aku suka dengarkan musiknya. Kenapa?" "Tidak. Hanya sejak tadi aku perhatikan kau sangat menikmati setiap lantunan musik itu. Bahkan bibir mungilmu pun ikut bernyanyi." Mukaku memerah. Bagaimana bisa dia terus memperhatikanku tapi aku sendiri pun tak sadar? Bodohnya sampai saat dia duduk di sebelahku pun aku masih tetap bertanya. "Apa kau sudah memesan minuman? Kulihat meja ini masih bersih." "Sudah. Mungkin sebentar lagi pesananku datang. Kau mau pesan apa?" Lagi-lagi pertemuan dengannya berlangsung di luar rumah. Pertemuan tak sengaja untuk kesekian kalinya. Ya, karena aku agak canggung mengajaknya bertemu jika hanya berdua. "Hei, kalian sudah sampai rupanya." Dia adalah teman  kami yang menyapa. Dan yang mempunyai ide untu...

Ice Cream, When Sweetness Come

"Setelah ini, kita mampir ke toko sebentar ya. Aku mau membeli minuman dingin." "Oke." Selangkah kemudian kami sudah berada di sebuah toko. Aku dan dia pun masuk ke dalam. Mencari berjajar lemari pendingin. "Ah, di sana rupanya." bisikku dalam hati. "Kau mau minuman apa? Sekotak moccacino dingin atau teh?" Dia terlebih dahulu berdiri di depan lemari pendingin dan mencari minuman untukku dan dirinya. Aku sendiri tidak menuju ke lemari pendingin di depanku tempat dia berdiri. Tapi beralih melangkahkan kakiku menuju sebuah refrigerator  berisi berbagai macam  ice cream. Entahlah apa yang membawaku ingin merasakan ice cream, padahal sudah lama aku tak menikmati manisnya. "Kau ingin satu? Ambil saja rasa coklat. Itu bagus untuk penetralkan perasaan." Aku kaget. Entah bagaimana dia bisa tahu apa yang aku pikirkan. Sedetik kemudian sebuah ice cream coklat sudah ditanganku. Setelah membayar dan keluar dari toko, aku tak langsung...

Bangga itu Harus Disyukuri, Bangga itu Indonesia

Apa yang lebih menyenangkan ketika kita bisa tinggal di negara yang maju dan juga memiliki kekayaan alam yang melimpah? Apa bisa dikatakan bersyukur ketika disaat yang bersamaan pula kita tidak menjaga negara yang dibanggakan dengan baik? Jauh dari baik atau tidaknya negara yang kita huni dan juga kebangsaan yang kita miliki, pasti ada hal yang dirasa penting dan berharga tertanam disana. Andai boleh memilih apa yang membuatmu bangga dan bersyukur menjadi bagian Indonesia? Jawaban saya hanya satu, karena saya terlahir di bumi pertiwi ini. Alasan yang objektif memang. Tapi yang membuat hal itu terasa spesial buat saya adalah banyak hal yang berharga dan bernilai untuk saya. Berbagi pendapat dengan sahabat mengenai Indonesia saat ini dengan tempo dulu saat saya masih duduk di bangku sekolah merupakan hal yang paling saya senangi. Ketika disela diskusi santai kami, saya dengan sengaja menanyakan tentang kebanggaan mereka sebagai seorang warga negara Indonesia. Berk...

"J" odiga?

*Ketika menulis ini satu hal yang selalu dirasa. Hati itu belum berubah sama sekali semenjak yang pertama datang dan menghilang pada akhirnya.* Beberapa hari belakang, aku tak lagi rajin mampir ke sebuah tempat ketika aku pertama kali dapat memikirkan dan bercengkrama dengan bayangannya. Bukan kembali bergumul pula dengan kopi dan buku yang seperti biasa aku lakukan. Alasan utama dari berkurangnya semua aktifitas itu adalah aku yang sedang ingin beristirahat dari hal itu. Tapi kesibukan kosong yang aku jalani belakang itu, membuatku rindu dengan sosoknya. Terlebih lagi waktu beberapa bulan tanpa kabar membuatku merasa sepi. Bukan hal berlebihan jika aku merasakan kesepian karena sosoknya yang tanpa kabar. Aku tidak membicarakan mengenai dia sosok 10 tahun yang selalu ada pada tempatnya. Tidak. Namun aku membicarakan sosok dia yang lain yang hampir 2 tahun ini ikut menemani dia yang 10 tahun telah berlalu. Bagaimana aku bisa menemukannya sosok dia yang 2 tahun bersinergi dengan ...

Begadang Asyik ala Bokap

"Siapa yang paling kau sayang antara ayah dan ibu? Siapa yang paling kau takuti dan paling kau segani diantara keduanya? Ayahmu atau ibu?" Entah bagaimana saat bertemu muka dengannya lagi, langsung kulontarkan pertanyaan itu. Apa dia langsung menjawab? Tidak. Air mukanya terlihat seperti habis berpikir keras. "Tak perlu kau jawab jika belum menemukan jawabannya. Aku hanya ingin menanyakan kepadamu saja. Bukan meminta jawaban." aku berusaha menenangkannya. "Bukan begitu. Aku juga sama sepertimu sedang menanyakan hal yang sama kepada diriku sendiri. Bagaimana kabar ayahmu? Masih gaul seperti sebelumnya?" tiba-tiba dia menanyakan kabar ayahku. "Beliau baik. Harusnya kau memanggilnya bokap. Karena dia enggan dipanggil ayah jika kita sedang membicarakannya." "Iya, aku suka lupa dengan hal ini." Jujur sebenarnya tak ada rencana untukku bertemu dengannya hari ini. Kalo bukan karena secangkir moccacino traktirannya aku enggan untuk ...

Masih dengan Pertanyaan yang Sama di Halaman Berikutnya

"Sudah selesai kau membaca itu?" dia bertanya sambil mununjuk ke buku yang sedang kubaca. "Hmm, baru pertengahan buku. Hanya beberapa bab lagi aku selesai membaca. Ada apa?" Perlahan kuturunkan buku yang sedang kubaca itu dan pandanganku langsung tertuju padanya. Memandang bertanya. "Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan?" masih dengan pandangan yang sama. "Bukan hal penting menurutku. Tapi rasanya aku butuh kau untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini." "Mengenai hal apa? Coba ceritakan mungkin aku dapat membantu mencari jawabannya." "Apa kau bisa menjawab tentang ini? Mengenai perasaan manusia yang sudah sepertinya kau rasakan. Aku ingin membicarakan mengenai cinta." "Cinta? Apa kau sedang jatuh cinta? Dengan siapa?" "Bukan aku, tapi kau. Dengan cinta pertamamu yang masih kau simpan hingga saat ini." "Aku? Dengan cinta pertamaku?" Heran. Tentu saja aku heran. Bagaimana bisa...

Secangkir Kopi Lagi

"Duduk dululah sejenak! Regangkan sedikit uratmu yang telah kaku." Celotehnya membuatku teringat akan ibuku di rumah. Apa yang beliau lakukan sekarang? Otak ini melompat cepat dalam deretan foto ingatan tentang beliau. Dari aku lahir hingga dewasa. Sedikit banyak perasaan rindu mengembang. "Baiklah. Jangan ceweret seperti itu!" ucapku padanya. "Apa yang ingin kau bagikan lagi denganku hari ini? Masihkah sama cerita tentang cinta pertamamu? Atau tentang pengalaman barumu?" "Bukan tentang hal itu yang ingin aku bagikan denganmu. Tapi hal lain mengenai teman-temanku semasa sekolah." "Baiklah, aku akan dengarkan." Akupun memulai ceritaku. Tapi apa yang hendak aku ceritakan padanya? Semua mengenai teman-temanku? Atau bernarasi dengan menggambarkan seperti apa mereka sekarang? Hendaknya aku memulai semuanya dari awal. Karena nampak jelas dia sedang tidak sabar menunggu ceritaku. Malam itu, sebuah perasaan membatu sepertinya di h...