Skip to main content

Posts

Mixing Feels, I Knew THAT Taste by Moccacino and Milk Mix

Diputar kembali. Aku mengulang kembali beberapa adegan menyenangkan dari film yang sedang ku tonton. Yup, sekarang aku sendiri di sebuah bioskop mini. Bukan bioskop sebenarnya, hanya sebuah tempat tersembunyi di sudut kamarku. Terlihat mini, karena aku hanya membuatnya di ruang kecil di kamar. Kegiatan itu yang kulakukan beberapa hari belakangan ini. Berkencan dengan buku-buku dan sebuah pena sudah kujadwalkan di akhir pekan nanti. Masih ingat dengan kotak biru yang pernah diberikannya padaku? Hmm, sekarang kotak itu tertata rapih bersamaan dengan buku-buku favoritku. Heh, apa dia menjadi barang favorit? Kukatakan iya. Lalu mengapa? Karena sekarang dia menjadi tempat kedua untukku. Sudahlah, tak perlu kuungkapkan dengan gamblang dan jelas. Toh, kalian tidak akan tahu kenapa. "Hahaaha.. Apa begitu romantis dan lucu adegan di film yang sedang kakak tonton itu?" Adikku. Boy-ish . Annoying . Dia anak lelaki tunggal.  "Yah! Kau datang semua ketenanganku ...

Kotak Biru II : Dengan Siapa?

Kotak itu ikut pulang bersamaku. Penasaran, tanpa perlu berpikir panjang, aku membuka kotak tersebut. Di dalamnya? Di dalamnya tidak ada apa-apa bukan sebuah hadiah besar yang seperti aku bayangkan. Hanya ada 2 buah amplop, putih dan coklat. Perlahan kubuka amplop putih. Didalamnya ada sepucuk surat. Tertulis rapih darinya untukku. "Permasalahan kembali dimulai saat yang sudah mulai terlupa kembali teringat. Serius bukan karena hal yang lama dipendam mencuat kembali, tapi yang terpendam masih memiliki rasa yang tak sepatutnya tersimpan..." Sepenggal pertama kubaca surat tersebut.. "...Banyak isyarat dari perilaku yang terlalu dibawa perasaan atau menaruh perasaan didalamnya. Entahlah. Jika biasanya dalam setiap pertemuan selalu ada sebuah bekas yang tertinggal. Mmungkin yang terakhir kemarin yang berkesan untuk lainnya. Untukmu?  Ada kalanya waktu itu kurang. Semenit atau per detiknya yang terluang terasa begitu lama dan juga tak penuh dengan kenangan. Karena ...

Kotak Biru

Selalu ada ruang yang tak akan bisa diisi oleh siapa pun bahkan ketika ruang lain telah sesak. Aku bukan lagi merasakan sebuah kekosongan yang tak lain ketika saat sebelumnya telah kukatakan bahwa aku sudah mulai bisa melupakan perasaan itu. Tentangmu. Manik cokelatnya menatap perih ke dalam sebuah kotak biru yang terdampar pada sebuah meja. Bibirnya mengelu kaku tak bersuara dan berkata apapun ketika aku duduk bersebelahan dengannya. Ada apa dengannya? Nyawa dan jiwanya seolah tak menyatu. Apa yang salah dengan diriku? Hendak menyadarkannya dari lamunan, aku sentuh perlahan pundaknya. "Kenapa?" "Ah! Oh, hai. Tidak ada apa-apa. Sejak kapan kau datang?" "Belum lama saat kau masih melamun." "Maaf! Aku tak menyadarinya." "Itu bukan masalah. Sebenarnya ada apa? Apa yang kau pandang itu? Begitu seriusnya hingga matamu terlihat sedih." "Hmm, ini sebuah hadiah dari seseorang yang aku temui sebelum kau datang." ...

What Feel When Love Lost?

Kosong. Kurang dari nilai nol yang selalu aku artikan untuk beberapa nilai dalam suatu benda akhir-akhir ini. Tak tahulah apa yang sebenarnya ada dan bersebrangan dengan pikiran serta hatiku. Bertanya lagi dan lagi. "Yaahhh!! Kenapa ini semua terasa tak ada arti sama sekali?" teriakku menyeruak begitu saja di depannya. "Kau ini kenapa? Apa yang membuatmu bertindak seperti lepas kontrol, hah?" Dia meneriakiku dan mengguncang-guncang tubuhku dengan kedua tangannya. Membuat tubuhku seolah bagaikan layangan yang ditarik-ulur mengejar angin. "Hentikan! Kau membuat kepalaku pusing." memintanya menghentikan apa yang dia perbuat kepadaku. "Baik aku akan berhenti setelah kau mau berjanji menceritakan semua masalahmu." "Iya, aku akan menceritakan semua. Sekarang berhenti dan biarkan aku duduk terlebih dahulu." Akhirnya, dia membiarkan aku duduk dekat dengannya. Kalau kalian bertanya dimana sekarang aku bertemu dan dengan siapa, a...

Radio vs TV

"Apa yang sedang kau dengarkan?" Terkaget? Iya, tentu saja. Karena dia menyapaku ketika sedang asyik mendengarkan sebuah lagu. "Ah, kau selalu saja. Hmm, ini lagu baru dari penyanyi yang aku suka dengarkan musiknya. Kenapa?" "Tidak. Hanya sejak tadi aku perhatikan kau sangat menikmati setiap lantunan musik itu. Bahkan bibir mungilmu pun ikut bernyanyi." Mukaku memerah. Bagaimana bisa dia terus memperhatikanku tapi aku sendiri pun tak sadar? Bodohnya sampai saat dia duduk di sebelahku pun aku masih tetap bertanya. "Apa kau sudah memesan minuman? Kulihat meja ini masih bersih." "Sudah. Mungkin sebentar lagi pesananku datang. Kau mau pesan apa?" Lagi-lagi pertemuan dengannya berlangsung di luar rumah. Pertemuan tak sengaja untuk kesekian kalinya. Ya, karena aku agak canggung mengajaknya bertemu jika hanya berdua. "Hei, kalian sudah sampai rupanya." Dia adalah teman  kami yang menyapa. Dan yang mempunyai ide untu...

Ice Cream, When Sweetness Come

"Setelah ini, kita mampir ke toko sebentar ya. Aku mau membeli minuman dingin." "Oke." Selangkah kemudian kami sudah berada di sebuah toko. Aku dan dia pun masuk ke dalam. Mencari berjajar lemari pendingin. "Ah, di sana rupanya." bisikku dalam hati. "Kau mau minuman apa? Sekotak moccacino dingin atau teh?" Dia terlebih dahulu berdiri di depan lemari pendingin dan mencari minuman untukku dan dirinya. Aku sendiri tidak menuju ke lemari pendingin di depanku tempat dia berdiri. Tapi beralih melangkahkan kakiku menuju sebuah refrigerator  berisi berbagai macam  ice cream. Entahlah apa yang membawaku ingin merasakan ice cream, padahal sudah lama aku tak menikmati manisnya. "Kau ingin satu? Ambil saja rasa coklat. Itu bagus untuk penetralkan perasaan." Aku kaget. Entah bagaimana dia bisa tahu apa yang aku pikirkan. Sedetik kemudian sebuah ice cream coklat sudah ditanganku. Setelah membayar dan keluar dari toko, aku tak langsung...

Bangga itu Harus Disyukuri, Bangga itu Indonesia

Apa yang lebih menyenangkan ketika kita bisa tinggal di negara yang maju dan juga memiliki kekayaan alam yang melimpah? Apa bisa dikatakan bersyukur ketika disaat yang bersamaan pula kita tidak menjaga negara yang dibanggakan dengan baik? Jauh dari baik atau tidaknya negara yang kita huni dan juga kebangsaan yang kita miliki, pasti ada hal yang dirasa penting dan berharga tertanam disana. Andai boleh memilih apa yang membuatmu bangga dan bersyukur menjadi bagian Indonesia? Jawaban saya hanya satu, karena saya terlahir di bumi pertiwi ini. Alasan yang objektif memang. Tapi yang membuat hal itu terasa spesial buat saya adalah banyak hal yang berharga dan bernilai untuk saya. Berbagi pendapat dengan sahabat mengenai Indonesia saat ini dengan tempo dulu saat saya masih duduk di bangku sekolah merupakan hal yang paling saya senangi. Ketika disela diskusi santai kami, saya dengan sengaja menanyakan tentang kebanggaan mereka sebagai seorang warga negara Indonesia. Berk...